Konseling kasus pada ADHD,Autisme,Slowlearner,Gifted.

-Model Konseling Untuk Penderita ADHD-
Model Konseling Behavioral
Untuk Anak Penderita Attention Deficit Hyperactivity
Disorder (ADHD) Salah satu jenis terapi yang
dapat dilakukan untuk membantu anak dengan ADHD adalah modifikasi tingkah laku (behavior).

Autisme spectrum disorder (ASD) atau yang lebih sering disebut autisme merupakan gangguan perkembangan saraf. Gangguan tersebut memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan seorang anak untuk berkomunikasi, berinteraksi, serta berperilaku.

Slow learner merupakan kondisi dimana anak mengalami lamban belajar, lamban terampil, dan lamban mamahami suatu informasi yang diperoleh atau ditangkapnya. Terkadang, anak yang mengalami slowlearner juga mengalami kekurangan dalam hal fisik, sosial, dan emosiona

Gifted adalah seseorang yang memiliki keunikan yang khusus dalam bidang intelektual (IQ di atas rata-rata), kreativitas dan komitmen yang tinggi sesuai dengan hasil tes. Istilah anak gifted atau gifted children dalam bahasa Indonesia adalah anak berbakat, anak luar biasa dan untuk anak-anak jenius.


Konseling behavior merupakan suatu teknik terapi dalam konseling yang berlandaskan teori belajar yang berfokus pada tingkah laku individu untuk membantu konseli mempelajari tingkah laku baru dalam memecahkan masalahnya melalui teknik-teknik yang berorientasi pada tindakan. Behavior berpandangan, pada hakikatnya kepribadian manusia adalah perilaku. Dimana perilaku tersebut merupakan hasil dari bentukan pengalaman interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya.

-Alasan-
Mengapa hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan model konseling behavioral ? Karena Konseling behavioral membantu klien mempelajari cara
bertindak yang baru dan tepat atau membantunya mengubah atau menghilangkan tindakan yang berlebihan. Terapi modifikasi perilaku harus melalui pendekatan perilaku secara langsung, dengan lebih
memfokuskan pada perubahan secara spesifik (Baihaqi & Sugiarmin, 2006:18) Pendekatan ini cukup berhasil dalam mengajarkan perilaku yang diinginkan, berupa
interaksi sosial, bahasa dan perawatan diri sendiri. Selain itu juga akan mengurangi perilaku yang tidak diinginkan, seperti agresif, emosi labil, self injury dan sebagainya. Modifikasi perilaku, merupakan pola penanganan yang
paling efektif dengan pendekatan positif dan dapat menghindarkan anak dari perasaan frustrasi,
marah, dan berkecil hati menjadi suatu perasaan yang penuh percaya diri.

Studi kasus individu berbakat gipted.

Biodata

Nama lengkap : Fathiyya Anindya Prasanti

Nama panggilan : Tia

TTL : Banjarbaru, 2 Agustus 2002

Usia : 17 tahun

Riwayat Sekolah :

  • SMPN  2 Gombong (kelas 7) thn 2014/2015
  • Homeschooling Kak Seto Solo (kelas 8) 2017/2018
  • PKBM An Nahar Kebumen (kelas 9) 2018/2019

Prestasi :

  • Juara 1 Mapel Matematika dalam Olympiade Achmad Dahlan (olympicad) 2tingkat daerah.
  • Juara 1 lomba spelling bee tingkat SD/MI dalam Olympiade and festival art 2014 Tingkat Jawa Tengah
  • Juara 2 pidato bahasa Inggris  dalam kegiatan Olympiade Achmad Dahlan (olympicad) 2tingkat daerah.

Di usia 4 tahun sudah dapat membaca running teks membuat orangtua Tia kaget dan pada usia ke 5 tahun sudah menyelesaikan buku “iqro”.  saat menempuh sekolah kanak-kanak, Tia lebih suka berinteraksi dengan gurunya. melanjut pendidikanya di SD, Tia menjadi sosok  overacbiever dan selalu mendapat rangking satu.  Di usia 8 tahun, Tia sudah membaca berbagai buku seperti seri Hercule Poirot, Miss Marple, seri Sherlock holmes  dan bahkan jurnal-jurnal dan nover berbahasa Inggris. Tia lalu menlanjutkan pendidikanya di SMP favorit dan mendapat peringkat pertama dari total 200 pendaftar. Tia mengalami kesulitan beradaptasi  dimasa SMP karena lingkungannya sekitarnya yang kurang mendukung, selain itu nilainya juga menurun karena pembelajarannya yang menoton membuat Tia bosan.

Tia akhirnya tidak melanjut pendidikanya dan memilih berdiam di rumah tanpa gairah, hal ini membuat hati orangtuanya hancur. Akhirnya orangtua Tia berinisiatif untuk membelikkan Tia kucing untuk memancing semangat Tia. Hal tersebut membuat keadaaan tia semakin hari semakin membaik. Setellah melewati masa-masa sulitnya Tia akhirnya meminta untuk melanjutkan pendidikanya .

Pada saat kondisi tata kurang baik, kedua orangtuanya membawa tata ke Psikolog di Kebumen. Orangtua Tia menceritakan perkembangan awal sampai akhir.  Psikolog tersebut menyatakan bahwa Tia diagnosis sebagai anak Gifted. Pernyataan psikolog tersebut membuat orangtua Tia mempelajari mengenai anak gifted dan mulai bergabung dengan komunitas orangtua pemiliki anak gifted yang bernama PSGGC (parents support group for gifted children

Persiapan adalah perlengkapan atau persediaan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan, kata fisik berarti badan atau jasmani. Jadi, dapat disimpulkan bahwa persiapan fisik adalah mempersiapkan tenaga yang cukup dan kesehatan tubuh yang baik. Sementara persiapan psikis berarti memiliki minat dan motivasi yang cukup untuk melakukan suatu kegiatan.

A.Gangguan psikis lainnya yang sering dialami oleh orang sakit adalah rasa putus asa, terutama pada pasien yang menderita penyakit kronis yang susah sembuh. Karena tipisnya aqidah, kemudian muncul keinginan pada diri orang sakit untuk mengakhiri hidup dengan jalan yang tidak diridhai Allah SWT.

B.Persiapan Fisik
Melakukan konsultasi keadaan pasien ke dokter dan petugas bimbingan rohani Islam Islam pilihan pasien. Jika pasien tidak memiliki pilihan, maka rumah sakit bisa memberikan fasilitas untuk menyediakan petugas bimbingan rohani Islam Islam yang lain.
Petugas bimbingan rohani Islam Islam menggunakan metode dan teknik yang bisa membantu memberikan pemahaman tentang ajaran dan nilai sesuai dengan agama, keyakinan, maupun kepercayaan masing-masing pasien.
Petugas bimbingan rohani Islam Islam Rumah Sakit harus siap dan terbuka pada segala bentuk masalah dan kondisi penyakit pasien.
Pihak Rumah sakit memberikan fasilitasitas pasien untuk melakukan kegiatan keagamaan, seperti: meditasi, beribadah, dan aktivitas ritual keagamaan yang lain sesuai dengan agama, keyakinan, maupun kepercayaan pasien.

STUDI KASUS SLOWLEARNER


Pertama kali penulis menemukan
mahasiswa yang bermasalah dalam kemampuan menyimak di Program Studi
Agribisnis Universitas Winaya Mukti
yaitu dengan cara menanyakan kepada
dosen yang menjadi wali dosen mahasiswa yang bermasalah tersebut.
Menurut informasi, ada mahasiswa yang slow learner dalam menyimak setiap mata kuliah. Mahasiswa
tersebut adalah mahasiswa kelas A. Informasi ini penulis dapatkan dengan cara
berwawancara dengan dosen yang
menjadi wali mahasiswa kelas A dan
dosen-dosen lain yang mengajar pada
semester I.
Tujuan dari identifikasi kasus
adalah untuk menentukan mahasiswa
yang mendapat masalah belajar mata
kuliah Bahasa Indonesia khususnya dan
yang memerlukan bantuan atau penanganan untuk meningkatkan motivasi
atau hasil belajarnya.
Identitas mahasiswa yang dijadikan sampel studi kasus pada keterampilan menyimak adalah sebagai berikut.
A. Identitas Mahasiswa
Nama :Abdul Haris
Jenis Kelamin:Laki-laki
Agama: Islam
Tempat, Tanggal
lahir:Sumedang, 12
Agustus 1996
Anak ke-: 1
Hobi: Sepak Bola
Jumlah Saudara
Kandung:1
Alamat:Ds.Sukatali Kec.Situraja Kab.Sumedang
B. Identitas Orang Tua
Ayah Nama:Hardi Suprayogi
Umur :51 tahun
Agama: Islam
Pendidikan:Sarjana
Pekerjaan:Swasta

Penelitian dimulai pada Senin,
15 Desember 2014. Berhubung mata
kuliah Bahasa Indonesia dalam satu
minggu terdapat 2 jam pembelajaran
yaitu di hari Senin. Penulis menjadwalkan melakukan penelitian setiap hari

Studi kasus autisme dan ADHD

Anak Autis merupakan seorang individu yang baru lahir sampai usia 8 tahun, anak yang mengalami gangguan autis mengalami hambatan dalam berkomunikasi, berinteraksi dengan lingkungan , dan sikap serta perilaku yang aneh dan sering diulang-ulang. Pada umumnya gangguan ini akan terlihat saat anak berumur 3 tahun. Untuk itu sangat penting agar gangguan autis ini dapat dilakukan melalui pemberian terapi, salah satu tempat terapi untuk anak autis yaitu di Yayasan Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah yang merupakan sebuah tempat terapi berbasis religi bagi anak dan orang dewasa yang memiliki kebutuhan khusus seperti gangguan autis, cerebral palsy , gangguan motorik, down sindrom, ADHD dan keterlambatan bicara.. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai proses terapi dan keefektifan dari proses terapi yang diberikan oleh Pesantren Al-Achsaniyyah kepada anak yang mengalami gangguan autis. Terapi yang diterapkan pada anak yaitu okupasi, wicara, perilaku, sensori integrasi, aktivitas keseharian, irama musik, terapi fisio, akupuntur dan terapi hipno, di antara terapi-terapi tersebut ada yang dilakukan setiap hari dan dihari tertentu saja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus. Subjek penelitiannya adalah anak yang mengalami gangguan autis yang berusia 6-8 tahun, sedangkan tempat penelitian dilakukan di Pesantren Al-Achsaniyyah di Kabupaten Kudus. Hasil dari penelitian tentang terapi yang dilakukan oleh anak autis dengan menggunakan metode ABA ini memiliki keefektifan dalam menghilangkan kebiasaan yang tidak sesuai, miskan kebiasaan anak yang sering menggerakgerakan memutar tanpa sebab. Serta mempertahankan hasil yang telah dicapai oleh anak serta mengajarkan anak tentang hal baru yang harus dilakukan, seperti anak yang awalnya melakukan BAB dan BAK di celana diajarkan untuk melakukannya di kamar mandi. Simpulan dari penelitian ini adalah anak yang sudah mendapatkan terapi beberapa kali dari terapi mengalami kemajuan yang baik. Saran dari penelitian ini adalah agar dalam memberikan terapi, terapis lebih sabar, serta kepada lembaga Al-Achsaniyyah agar lebih memperhatikan sarana dan prasarana yang digunakan terapis. misalkan kebiasaan anak yang sering menggerakgerakan tangan tanpa sebab. Serta mempertahankan hasil yang telah dicapai oleh anak serta mengajarkan anak tentang hal baru yang harus dilakukan, seperti anak yang awalnya melakukan BAB dan BAK di celana diajarkan untuk melakukannya di kamar mandi. Simpulan dari penelitian ini adalah anak yang sudah mendapatkan terapi beberapa kali dari terapi mengalami kemajuan yang baik. Saran dari penelitian ini adalah agar dalam memberikan terapi, terapis lebih sabar, serta kepada lembaga Al-Achsaniyyah agar lebih memperhatikan sarana dan prasarana yang digunakan terapis. misalkan kebiasaan anak yang sering menggerakgerakan tangan tanpa sebab. Serta mempertahankan hasil yang telah dicapai oleh anak serta mengajarkan anak tentang hal baru yang harus dilakukan, seperti anak yang awalnya melakukan BAB dan BAK di celana diajarkan untuk melakukannya di kamar mandi. Simpulan dari penelitian ini adalah anak yang sudah mendapatkan terapi beberapa kali dari terapi mengalami kemajuan yang baik. Saran dari penelitian ini adalah agar dalam memberikan terapi, terapis lebih sabar, serta kepada lembaga Al-Achsaniyyah agar lebih memperhatikan sarana dan prasarana yang digunakan terapis. seperti anak yang memulai BAB dan BAK di celana diajarkan untuk melakukan di kamar mandi. Simpulan dari penelitian ini adalah anak yang sudah mendapatkan terapi beberapa kali dari terapi mengalami kemajuan yang baik. Saran dari penelitian ini adalah agar dalam memberikan terapi, terapis lebih sabar, serta kepada lembaga Al-Achsaniyyah agar lebih memperhatikan sarana dan prasarana yang digunakan terapis. seperti anak yang memulai BAB dan BAK di celana diajarkan untuk melakukan di kamar mandi. Simpulan dari penelitian ini adalah anak yang sudah mendapatkan terapi beberapa kali dari terapi mengalami kemajuan yang baik. Saran dari penelitian ini adalah agar dalam memberikan terapi, terapis lebih sabar, serta kepada lembaga Al-Achsaniyyah agar lebih memperhatikan sarana dan prasarana yang digunakan terapis.

TUNALARAS

Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal maupun faktor eksternal nya. 

Untuk menangani kasus ini saya memilih konseling behavior karena ini sangat efektif jika kita lihat dari pengaruh dan kondisi seorang yang berkebutuhan khusus ini.

konseling behavioral adalah konseling yang didasarkan pada upaya perubahan perilaku. Perilaku dalam pandangan ini dibentuk berdasarkan hasil dari segenap pengalamannya berupa interaksi individu dengan lingkungan sekitar 

Biasanya orang dengan tunalaras tentu tak terkendali pasalnya prilaku dan sikap menyimpang terjadi akibat pengaruh internal atau eksternal.

Dan tentu saja kita mengetahui secara umum bahwa sesuatu yang berpengaruh untuk sikap seseorang adalah keluarga dan lingkungan atau teman sebaya,ini yg dominan menjadi penentu seseorang itu normal atau memiliki kebutuhan khusus

Konseling behavior adalah sebuah proses konseling (bantuan) yang diberikan oleh konselor kepada klien dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tingkah laku (behavioral), dalam hal pemecahan masalah-masalah yang dihadapi serta dalam penentuan arah kehidupan yang ingin dicapai oleh diri klien. Konseling behavioral merupakan suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu.

Konseling behavior merupakan suatu teknik terapi dalam konseling yang berlandaskan teori belajar yang berfokus pada tingkah laku individu untuk membantu konseli mempelajari tingkah laku baru dalam memecahkan masalahnya melalui teknik-teknik yang berorientasi pada tindakan. Behavior berpandangan, pada hakikatnya kepribadian manusia adalah perilaku. Dimana perilaku tersebut merupakan hasil dari bentukan pengalaman interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya.

Menurut Latipun (2008), tujuan konseling behavior adalah menciptakan suatu kondisi baru yang lebih baik melalui proses belajar sehingga perilaku yang negatif dapat dihilangkan serta mengubah tingkah laku adaptif dengan cara memperkuat tingkah laku yang diharapkan dan meniadakan perilaku yang tidak diharapkan serta berusaha menemukan cara-cara bertingkah laku yang baru.

Tunalaras

Sahabat Madani, pada kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang Tunalaras. Apakah itu?. Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya.

Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari  lingkungan sekitar. Menurut T.Sutjihati Somantri, (2007 : 139) “ Anak tunalaras sering juga disebut anak tunasosial karena tingkah laku anak ini menunjukkan penentangan terhadap norma-norma sosial masyarakat yang berwujud seperti mencuri, mengganggu, dan menyakiti orang lain.”

Perkembangan yang terjadi pada diri anak tunalaras, tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang tidak memiliki ketunalarasan. Hanya saja akibat dari gangguan emosi yang ia miliki, berpengaruh terhadap segi kognitif, kepribadian, dan sosial anak. Dimana pada segi kognitif anak kehilangan minat dan konsentrasi belajar, dan beberapa anak mempunyai ketidakmampuan bersaing dengan teman-temannya.

Dalam kasus tunalaras ini ada satu orang yg bisa disebut tunalaras karena memiliki ciri-ciri yang sama,contoh kejadiannya adalah ketika ibu nya menyuruh untuk mengambil buah melinjo dengan kasar anak ini langsung pergi kebelakang menebang pohon melinjo tersebut.

Studi kasus tunadaksa

Istilah tuna daksa berasal dari kata “tuna” dan “daksa”, tuna yang berarti rusak atau cacat dan daksa yang berarti tubuh. Menurut Sutjihati Somantri tunadaksa adalah suatu keadaan yang terganggu atau rusak sebagai akibat dari gangguan bentuk atau hambatan pada otot, sendi dan tulang dalam fungsinya yang normal

Tunadaksa/gangguan gerekan/kelainan anggota tubuh
Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi, otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan khusus.

Jika mereka mengalami ganguan gerekan karena kaluyuhan pada fungsi saraf otak,mereka disebut Cerebral Palsy(CP).

Pengertian Anak tunadaksa bisa dilihat dari segi fungsi fisiknya dan dari segi anatominya. Dari segi fungsi fisik ,tuna daksa diartikan sebagai seseorang yang fisik dan kesehatannya mengalami masalah sehingga fungsi tersebut dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dan untuk meningkatkan fungsi program dan layanan khusus. pengertian yang didasarkan pada anatomi yang biasanya digunakan pada kedokteran. Daerah mana mengalami kelainan.

Ciri-ciri anak tunadaksa dapat dilukiskan sebagai berikut:
a.Anggota gerak tubiuh kaku/lemah/lumpuh
b.Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna,tidak lentur/tidak terkendali).
c.Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa.
d.Terdapat cacat pada alat gerak.
e.Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam.
f.Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk,dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal.
g.Hiperaktif/tidak dapat tenang.Nilai Standart : 5

Kebutuhan Pembelajaran Anak tunadaksa
Guru sebelum memberikan pelayanan dan pengajaran berikut bagi anak tuna daksa harus memperhatikan hal-hal sebagai:
a.Segi Medisnya
Apakah ia memiliki kelainan khusus seperti penyakit atau pernah di operasi, masalah lain seperti harus menggunakan obat lain sebagainya.
b.Bagaimana kemampuan bergerak dannya.
Apakah anak kesekolah menggunakan transportasi,alat bantu dan sebagainya.Ini berhubungan dengan lingkungan yang harus dipersiapkan.
c.Bagimana komunikasinya.
Apakah anak mengalami kelainan dalam berkomunikasi, dan alat komunikasi apa yang digunakan (lisan,tulisan,isyarat) dan sebagainya.
d.Bagaimana perawatan dirinya
Apakah anak melakukan perawatan diri dalam aktifita kegiatan sehari-hari
e.Bagaimana posisi.
Disini diperlukan bantuan bagaimana posisi anak tersebut didalam menggunakan alat,posisi posisi belajar,waktu istirahat waktu kecil dan sebagainya.Dalam hal ini terapi fisik sangat diperlukan.

sumber : http://materiplb.blogspot.co.id

Tunagrahita

Tunagrahita adalah kondisi dimana seorang individu mengalami keterbelakangan mental atau dikenal juga retadasi mental (mental retardation). Anak tunagrahita memiliki IQ di bawah rata-rata anak normal pada umumnya, sehingga menyebabkan fungsi intelektual mereka terganggu dan menyebabkan munculnya permasalahan-permasalahan baru pada masa perkembangannya. Hal tersebut sejalan dengan AAMD (American Assosiation on Mental Deficiency) yang dikutip oleh Grossman (Krik & Gallagher, 1986:116) dan diterjemahkan oleh Astati dan Lismulyati bahwa:

Tunagrahita mengacu pada fungsi intelek umum yang nyata berada di bawah rata-rata bersamaan dengan kekurangan dalam adaptasi tingkah laku dan berlangsung dalam masa perkembangan}

Sumber:Sedangkan menurut Amin (1995:15) anak tunagrahita adalah:

Anak yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata, mengalami hambatan tingkah laku, penyesuaian dan terjadi pada masa perkembangannya.}

Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:

  1. Lemah pikiran (Feeble Minded)
  2. Terbelakang mental (Mentally Retarded)
  3. Bodoh atau dungu (Idiot)
  4. Pandir (Imbecile)
  5. Tolol (Moron)
  6. Oligofrenia (Oligophrenia)
  7. Mampu Didik (Educable)
  8. Mampu Latih (Trainable)
  9. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau butuh rawat
  10. Mental Subnormal
  11. Defisit Mental
  12. Defisit Kognitif
  13. Cacat Mental
  14. Defisiensi Mental
  15. Gangguan Intelektual

Tanda-tanda anak tunagrahita dapat dikenali sejak masa kanak-kanak. Biasanya, anak dengan disabilitas intelektual akan menunjukkan proses pertumbuhan atau perkembangan yang terhambat. Ada beberapa tanda yang paling sering muncul pada anak tunagrahita, yaitu:

  • Anak lambat bicara, duduk, merangkak atau berguling
  • Sulit mengingat
  • Lambat menguasai kemampuan dasar, seperti makan sendiri, berpakaian, atau buang air di toilet
  • Gangguan perilaku, seperti sering marah-marah tidak terkendali
  • Tidak dapat menghubungkan antara tindakan dengan konsekuensi dari tindakan tersebut
  • Sulit berpikir logis maupun memecahkan persoalan ringan

Sebagian anak yang memiliki kelainan mental biasanya mengalami gangguan kesehatan, seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, autisme, gangguan kemampuan motorik, hingga kejang.

Sebagian kasus tunagrahita tidak dapat dicegah, tetapi ibu hamil selalu dapat menghindari aktivitas yang bisa meningkatkan risiko kondisi tersebut, seperti tidak mengonsumsi minuman keras dan mendapat perawatan hingga melahirkan.

Pada kasus yang disebabkan oleh penyakit turunan, tes dapat dilakukan untuk mendeteksi kelainan genetik mencegah keparahan dan mendeteksi sejak dini penyakit yang ada.

Menurut penelitian, beberapa kasus yang terdeteksi dan diatasi lebih awal memperlihatkan hasil yang maksimal. Anak bisa mengejar ketertinggalan dalam pertumbuhan atau perkembangan dan menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri.

Anak dengan tunagrahita memerlukan bimbingan dari orang tua dan orang-orang sekitarnya dalam menjalani proses perkembangan agar ia bisa menjadi lebih mandiri dan beraktivitas secara normal sesuai kemampuannya.

Oleh karena itu, orang tua yang memiliki anak tunagrahita diharapkan mencari tahu sebanyak mungkin tentang kondisi tersebut. Anda bisa konsultasi ke dokteratau psikolog anak untuk mendapatkan informasi tentang cara mendampingi dan mendukung Si Kecil yang menderita tunagrahita

Resume

Nama : Dede rofiunazat

Nim : 191520063

Kelas : bki 6 b

Studi kasus tentang Tunarungu.

Nama : Mukdi

Umur : 68 tahun

Sosial:Dalam kehidupan sehari-hari beliau kesulitan dalam komunikasi dengan lawan bicaranya.

Agama: beliau ada seorang yang taat beragama (ibadah) namun karena tuna rungu beliau kesulitan menerima materi saat pengajian sehingga beliau merasa seperti tak dapat apa-apa.

Karir: beliau seorang petani yang bekerja disawah dan suka menggarap sawah orang lain juga tapi karena Tunarungu kadang beberapa orang enggan meminta bantuanya.

Pedidikan :beliau tidak sekolah dan SD pun tidak tamat,sehingga beliau.

Pendekatan individu (Individual approach)
Terdapat istilah yang sangat familiar ‘tak kenal maka tak
sayang’, kalimat sederhana yang sering diucapkan oleh orang-orang
ketika pertama kali bertemu dan ingin membina hubungan yang
lebih hangat dan harmonis; baik dalam jangka waktu yang singkat
maupun yang panjang. Individual approach atau pendekatan secara
personal sangat diperlukan sebelum memulai aktivitas konseling
kepada konseli. Dimulai dari hal yang sederhana, konseli menggalih
informasi tentang konseli yang akan didampingi selama program
berlangsung. Aktivitas tersebut dapat berupa mengetahui hal-hal
sederhana seperti:
a. Identitas sederhana (nama, usia, tempat tinggal)
b. Kegemaran
c. Cita-cita
d. Biografi atau auto biografi yang meliputi latarbelakang,
jenis, dan sebab klien mengalami disorder (kelainan)
e. Keadaan keluarga
f. Permasalahan klien yang membuatnya merasa kesulitan,
baik internal maupun eksternal (sociometri-traumatic)
g. Watak dan kesehatan jasmani dan rohani (untuk
mengidentifikasi apakah terdapat kelainan lain, selain yang
telah diketahui)
h. Dan pembahasan sederhana lain antara konselor dan konseli,
untuk membina hubungan dekat, harmonis, dan hangat.