mengulas tentang film Al-Ghazzali Kimia Kebahagiaan atau The Alchemist of Happiness yang salah satu tugas ke dua saya di Mata Kuliah Filsafat Islam. Silahkan dibaca dan di hayati bagi kalian yang tidak suka membaca mohon di sempatkan untuk membacanya kita sama-sama belajar dari jejaknya beliau. Ingat, malas belajar dan membaca itu berbahaya kawan, karena kita akan berada di antara orang-orang yang berbeda sudut pandang. Berbeda pola berpikir dan berbeda pemahaman. karena di film ini banyak pelajaran yang memang harus kita ketahui sebagai umat Muslim.
Manusia sepanjang umurnya mencari letak. Dimanakah bahagia berada, segala upaya dikerahkan, untuk mencari tahu bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan sendiri. Kemana-mana kita mencari, jauh berkelana, tapi ternyata bertemu didalam diri kita sendiri.
Kebahagian bukanlah rumusan terbuat dari, melainkan terdiri atas. Banyak ramuan dan tak pernah tunggal. Dan beberapa diantaranya justru terkesan bertolak belakang. Misalnya saja rasa takut. Betul, sangat kontradiksi. Dan memang kontradiksi, seperti kebahagiaan itu.
Menjelajahi kehidupan dan pengaruh dari filsuf spiritual dan hukum terbesar dalam sejarah islam, film ini meneliti krisis eksistensi imam al Ghazali yang muncul dari penolakannya terhadap dogmatisme agama, dan mengungkapkan kesamaan yang mendalam dengan jaman kita sekarang. Ghazali dikenal sebagai Hujjatul Islam (bukti islam) dan jalan cinta dan keunggulan spritualnya mengatasi perangkap dari agama yang terorganisir pada zamannya. Jalan-nya sebagian besar ditinggalkan oleh reformis Muslim awal abad ke-20 yang lebih keras dan kurang toleran, seperti mahzab Ibnu Taimiyah. Menggabungkan drama dengan dokumentar, film ini perpendapat bahwa islmanya al Ghazali adalah penawar untuk terror jaman sekarang ini.
Perjalanan hidup Ghazali yang mulanya mendalami pengetahuan demi tujuan harta dan jabatan.
Saat ia menjadi kaum intelektual yang tidak ada tandingan nya, diangkat menjadi guru besar bidang teologi di Universitas nizham al mulk Baghdad dan popularitas nya melejit hampir tak ada seorang pun yang tidak mengenal nya.
Namun al Ghazali mengalami kehampaan hidupnya. Ia menyadari bahwa pembelajaran yang telah dijalani nya selama ini hanya bertumpu pada tujuan rendah. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkan segala nya. Ia mengembara seorang diri selama 10 tahun mencari makna kehidupan dan ilmu yang membawa nya pada kebahagiaan sesungguhnya. Dalam pengembaraan itulah al Ghazali telah tercerahkan.
Dialah Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Abu Hamid Al-Ghazali Al-Mujtahid Al-Faqih Al-Ushul Al-Mutakalim Ath-Thusi Asy-Syafi’I (Al Ghazali) lahir tahun 1058 A.D di Khorasan, Iran. Ayahnya meninggal pada saat dia masih sangat muda, namun dia mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan disekolah dengan kurikulum yang bagus di Nishapur dan Baghdad. Segera setelah itu, dia menerima penghargaan dibidang agama dan filsafat dan ditunjuk sebagai professor pada Universita Nizamiyah di Baghdad, yang terkenal sebagai intstitusi pendidikan yang bergengsi pada jaman keemasan sejarah islam. Beberapa tahun kemudian, dia berhenti dari kehidupan di dunia universitas dan hidup keduniaan, lalu mencari kehidupan zuhud. Saat ini merupakan masa transformasi mistis bagi al Ghazali. Kemudian, dia mulai tugasnya lagi sebagai pengajar, namun kemudian ditinggalkan lagi. Sebuah kehidupan menyendiri, yang dikonsentrasikan pada kontemplasi dan menulis dia lakukan yang menghasilkan beberapa karya yang monumental. Dia meninggal di Baghdad pada tahun 1111/ Jumadil Akhir 505 H, umur 52-53 tahun.
Film ini memiliki tiga rentang usia yang berbeda; anak, dewasa dan tua. Al Ghazali The Alchemy of Happiness inti film ini adalah berdasar riwayat hidup nyata imam al ghazali, atau nama sebenarnya abu hamid Muhammad al Ghazali (1058-1111 M) yaitu seorang tokoh pemikir islam yang sangat terkenal sehingga namanya bergema-gema di ruang lingkup dunia barat. Terutama yang melibatkan bidang filsafat dan epistemology. Dalam dunia islam pula, rata-rata orang umum mengenalnya melalui kitab-kitab tasawufnya seperti ihya Ulumuddin (kitab bimbingan mukmin yang dilakukan oleh sheikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi dari Damaskus) dan Ayyuhal Walad al-Muhaib (wahai anakku sayang)
The Alchemy of Happiness karangan Al-Ghazali, Film ini berkisah tentang perjalanan Al-Ghazali mengabdikan hidupnya untuk menyelidiki rahasia keperiadaan dengan mengatasi keraguan falsafinya serta mencapai pencerahan spiritual. Karena puncak di dalam diri manusia tidak cukup aktualisasi diri yang didominasi nafsu duniawi melainkan kesadaran diri mengenai Tuhan, keberadaan Tuhan dalam diri, spiritualitas.
Beliau sosok al- Ghazali diceritakan melalui beberapa sudut pandang, dari beberapa pakar dan dari seseorang yang ingin memahami jejak Ghazali. Di awal cerita terdapat seseorang yang ingin memahami jejak Ghazali, Ia berkunjung di sebuah kota bernama Thus, tepatnya di tempat pemakaman Ghazali yang juga sering disebut penjara Harun. Ia didampingi oleh Mohammad Yahagi, Lecturer, Persian Literature Mashad University yang menjelaskan bahwa yang selama ini disebut pusaran Ghazali hanyalah tugu pusaran saja, karena pemakaman Ghazali masih misterius adanya. Thus, tempat Ghazali dilahirkan yaitu tahun 1058. Pada masa Ghazali merupakan masa peradaban terhebat yang pernah ada, besar, dan paling makmur. dan Islamik Studies Cambridge University bahwa Khurasan diperkirakan tempat paling produktif di wilayah tengah Islam, saat itu. Ada kota besar, universitas besar di sana, dan pusat studi hukum Islam (fiqh).
Dan film ini mulai menjelaskan siapa sosok Al-Ghazali. Menjelaskan bahwa Al-Ghazali pada dasarnya dipandang sebagai satu dari 5 atau 6 pemikir paling berpengaruh dalam sejarah kemanusiaan. Pengaruh tersebut hidup hingga kini, beliau memperlihatkan bahwa jantung keimanan dan setiap amalan Islam ada makna spiritual dan proses tobat, perbaikan dan hijrah. Kita datang ke dunia ini lalu meninggalkannya, sejauh itu sudah pasti kurasa. Itulah sebabnya beliau disebut “Bukti Islam” (Hujjatul-Islam).
Di dalam film ini juga digambarkan bagaimana beliau memaparkan makna batiniah ritual Islam dan metode menuju pencerahannya. Kodrat manusia dan keadaan dasarnya adalah kehampaan dan ketidaktahuan akan dunia gaib Tuhan. Manusia mendapatkan pengetahuan melalui organ duniawi yang setiap dari organ tersebut dianugerahkan kepada kita semua untuk memahami dunia makhluk. Ialah indra perabaan yang membantu kita merasakan kenyataan mengenai panas dan dingin, indra penglihatan, indra pendengaran, indra pengecap dan indra pembau. Lalu, berkembang menjadi lebih kompleks dari sekedar indrawi, manusia diberi nalar.
Beliau Ghazali dan adiknya ditinggal wafat oleh ayahnya. Seorang Shufi, saat masih kecil. Sekitar usia tujuh tahun. Selama ditinggal wafat, mereka dititipkan kepada teman kepercayaan ayahnya, seorang wali shufi. Teman terpercaya untuk merawat Ghazali dan adiknya, dipaparkan bahwa seorang guru itu lebih penting daripada seorang ayah biologis seseorang. Pada hal tersebut Ghazali ingin menekankan gagasan “keabadian Ilahiah”, tentang yang pasti datang, apa yang fana, dan apa yang abadi. Pada perjalanan abadi, seseorang membutuhkan guru untuk menuntun perjalanan melintasi dunia. Sedang ayah memberimu kehidupan untuk perjalanan duniawi, ia tak memberimu sarana untuk melintasi dunia ini. Manusia membutuhkan guru untuk memperdalam pengetahuannya.
Ghazali dikenal sebagai anak ajaib sangat ajaib, karena beliau hafal teks standar di usia dini seusia beliau, di awal remaja. Beliau menimba ilmu ke kota provinsi tetangga, Nisyapur di kelas Al-Juwaini. Sejak kecil ia sangat haus akan ilmu, akan pemahaman mengenai kebenaran sesungguhnya untuk segala hal. Pengetahuan diserapnya berbasis konsep Islam. Mencerna mengenai keesaan Tuhan, dan bagaimana keesaan itu mewujud melalui keragaman di dunia ini. Beliau menguasai, hafal, menghayati dan mengajarkan hal-hal tersebut di usia dini. Luar biasa. Beliau menyaksikan beberapa hal tersebut seperti otoritas agama langsung dari kehidupan, kejadian yang sesungguhnya, seperti ia menyaksikan sendiri anak-anak Kristen selalu dibesarkan menjadi orang Kristen, Yahudi Muslim. Ia juga mengaitkannya kepada hadist Rasullulah SAW.
Banyak sekali pandangan Ghazali terkait keperiadaan manuasia. Menceritakan pula sisi tragis keperiadaan manusia salah satunya ialah saat manusia mengesampinngkan Tuhan dari pencarian diri, hingga menuhankan hal lain sebagai ganti Tuhan nya.
Ghazali berkelana untuk belajar kepada ahli kalam terkemuka. Sebagian pelajaran yang diperolehnya melalui cara yang tak terduga. Rintangan dalam perjalanan Ghazali. Dalam sebuah perjalanan bersama rekan-rekannya, terjadi sebuah perampokan yang berdampak besar pada Ghazali, semua ilmu yang dikumpulkan dari guru-gurunya selama dua tahun itu lenyap dirampas oleh para perampok yang menjegatnya di perjalanan beliau. Beliau berkata bahwa apa yang dibawanya tidak berharga bagi perampok itu, si perampok itu dibalas perkataannya, “Jadi aku cukup merampasnya darimu untuk menghapus pengetahuanmu.” Terngiang perkataan tersebut dalam benaknya Ghazali, dalam hati beliau berkata bahwa perampok itu sangat benar. Pengalaman tersebut memberi pelajaran kepadanya, ia menekadkan demi Tuhan dan pengetahuan yang didapatkan dari pencegatan masa depan. Beliau menghapalkan catatan yang telah diperoleh selama tiga tahun. Hakikat menghapal yang bukan semata-mata untuk mengejar nilai bagi seorang murid untuk mendapatkan nilai, namun untuk bekal, simpanan yang akan tetap abadi jika sewaktu-waktu dia akan hilang.
Ghazali, menemukan sesuatu yang selama ini ia cari. Tak jauh-jauh, didalam dirinya sendiri dan menanti ditemukan oleh diri sendiri. Begitu juga dengan kebahagian, ia tak pernah jauh. Kebahagiaan hanya perlu ditemukan di dalam diri kita.
Dengan berjalannya waktu, Ghazali semakin dikenal kelihaiannya. Ia mencapai puncak aktualisasi diri dengan sangat baik. Kekayaan, status, kemapanan, kepopuleran telah ia pegang. Namun, di suatu waktu timbul kekahwatiran pada dirinya, ia seakan ingin menjadi apa adanya dan menyadari betapa palsu dirinya. Ternyata apa yang telah teraktualisasikan tidak cukup menjawab tentang siapa diri beliau yang sebenarnya. Kepribadian bersembunyi di balik sesuatu. menyadari topeng yang ia tebar di dunia sebagai si jenius, si anak ajaib, dan pendebat yang sangat cemerlang. Pada saat itu, dalam dakwah yang ia sampaikan di masjid, ada seorang pemakna kehidupan Illahi, menjadi pemicu transformasi beliau, ia berkata, “Wahai batu asah, sampai kapan kau menajamkan besi, tapi kau sendiri tak kunjung tajam?”. Dari situlah beliau akhirnya menyadari bahwa pengetahuan intelektual ini ternyata kejahilan yang sangat samar. Beliau benar-benar berada pada titik sadar, “Aku fana, aku akan mati. Sudahkah kupersiapkan perjalanan ini?” Hal itu menerpurukkan, merusak selera makan, waktu makan dan tidurnya, pelan-pelan.
Lalu al-Ghazali jatuh sakit, dan itu tiada obatnya, karena penyakit itu menyerang jiwanya. Beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan segala hal duniawi yang ia miliki, untuk berkelana. Meninggalkan kehidupan yang sangat sukses. Ia pergi menyembuhkan diri. Jujur pada diri sendiri. Memutus ikatan-ikatan duniawi untuk sementara. Ia memaknai sebuah rumah. Rumah kita bukan di sebuah jalan tertentu, dan tak menghuni tempat tertentu kecuali Tuhan. Beliau juga berniat untuk berhaji ke Makkah.
Ghazali pergi mencari Tuhan di alam liar, berkelana melalui gurun dan hutan. Tawakal bahwa Tuhan akan mencukupi kebutuhan manusia, berusaha untuk terus mengingat-Nya. mengenal Tuhan melalui pengajian Al-Qur’an, shalat dengan. Dia abdikan dirinya untuk menyucikan jiwa, memperbaiki sifat, membersihkan hati. Menerapkan yang telah dipelajari dari Tashawuf. Beliau memulai kehidupan spiritualnya. Dia menulis hal-hal yang ia temukan dalam perjalanannya agar yang lain dapat memahami.
Akhir film ini menjelaskan serta menjabarkan pemikiran-pemikiran Ghazali tentang sari pati Islam, pengamalan-pengamalan spritual dan keperiadaan fisik, hingga kesadaran dari seseorang yang ingin mendalami kehidupan ini.
Banyaknya makna yang terdapat di film ini, salah satunya bahwa pada dasarnya kebutuhan puncak manusia itu bukan ketika dia telah berhasil mengaktualisasikan diri kita, namun ada kebutuhan lain yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan untuk mengetahui akar kehidupannya yaitu berasal dari Tuhan dan akan kembali pada Tuhan. Tuhan menganugerahkan organ indrawi, nalar dan yang melebihi itu bukan hanya untuk melihat fisik dunia, namun sarana untuk menggali kesadaran, menjadikan Tuhan pengisi ruang kosong dalam diri kita sehingga tak perlu resah mencari penggantinya karena memang tak ada penggantinya sampai manusia lelah mencari yang tepat, ia takkan mampu menemukannya, Tuhanlah yang paling tepat. Berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadist menjadikan kita cukup untuk merasa bahagia menempatkan diri di bumi ini. Untuk menuju keabadian, Syurga dan cinta Tuhan-nya.
Kita nyaris tak pernah takut. Surga dan neraka, nyaris kita anggap hanya cerita. Berfikir surga dan neraka hanya untuk mereka yang rendah dan tak canggih pemikirannya. Bahkan kita tak dibenarkan memiliki rasa takut pada Allah SWT.
Apakah hidup seperti ini yang kita cari? Akan kemanakah semua ini mengarah?
Logika dan nalar telah dibalik-putarkan. Yang tak memelihara rasa takut dalam keimanan, disebut jenius dan brililan. Sebaliknya, mereka yang memelihara takut kepada Allah disebut jamud dan ketinggalan.
Beruntunglah orang-orang yang takut kepada Allah. Karena berhati-hati. Berbahagialah orang-orang yang takut. Karena mereka akan mengubah diri dan mempersiapkan bekal yang lebih baik lagi.
Lalu hanya ada sesal bagi mereka yang terbuai dalam lalai. Sebab waktu tak bisa berputar ke belakang dan tak pula bisa dihentikan.
Cinta dunia akan mengahalangi hati kita takut kepada Allah. Teman yang buruk juga melunturkan rasa takut kita kepada Allah.
Ya Allah, anugerahkan kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara kami dan kedurhakaan kepada-Mu.”(HR.Tirmidzi)
Ada pesan moral di film ini yakni manusia harus dapat mendamaikan iman dan nalar agar tidak mengamalkan agama secara buta di dunia ini. Ada banyak hal yang menyalahartikan agama dengan argumen-argumennya, membuat fungsi agama menjadi memuakkan dan hal keduniawian yang sifatnnya fana menjadi begitu menggiurkan. Oleh karenanya, kita perlu pengetahuan yang lebih untuk menjinakkan hal-hal nalar yang berpotensi mengesampingkan iman, tak sadar lagi akan yang gaib, agar Tuhan tetap menjadi fokus utama di hati dan hidup kita.