Studi kasus tunadaksa

Istilah tuna daksa berasal dari kata “tuna” dan “daksa”, tuna yang berarti rusak atau cacat dan daksa yang berarti tubuh. Menurut Sutjihati Somantri tunadaksa adalah suatu keadaan yang terganggu atau rusak sebagai akibat dari gangguan bentuk atau hambatan pada otot, sendi dan tulang dalam fungsinya yang normal

Tunadaksa/gangguan gerekan/kelainan anggota tubuh
Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi, otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan khusus.

Jika mereka mengalami ganguan gerekan karena kaluyuhan pada fungsi saraf otak,mereka disebut Cerebral Palsy(CP).

Pengertian Anak tunadaksa bisa dilihat dari segi fungsi fisiknya dan dari segi anatominya. Dari segi fungsi fisik ,tuna daksa diartikan sebagai seseorang yang fisik dan kesehatannya mengalami masalah sehingga fungsi tersebut dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dan untuk meningkatkan fungsi program dan layanan khusus. pengertian yang didasarkan pada anatomi yang biasanya digunakan pada kedokteran. Daerah mana mengalami kelainan.

Ciri-ciri anak tunadaksa dapat dilukiskan sebagai berikut:
a.Anggota gerak tubiuh kaku/lemah/lumpuh
b.Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna,tidak lentur/tidak terkendali).
c.Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa.
d.Terdapat cacat pada alat gerak.
e.Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam.
f.Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk,dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal.
g.Hiperaktif/tidak dapat tenang.Nilai Standart : 5

Kebutuhan Pembelajaran Anak tunadaksa
Guru sebelum memberikan pelayanan dan pengajaran berikut bagi anak tuna daksa harus memperhatikan hal-hal sebagai:
a.Segi Medisnya
Apakah ia memiliki kelainan khusus seperti penyakit atau pernah di operasi, masalah lain seperti harus menggunakan obat lain sebagainya.
b.Bagaimana kemampuan bergerak dannya.
Apakah anak kesekolah menggunakan transportasi,alat bantu dan sebagainya.Ini berhubungan dengan lingkungan yang harus dipersiapkan.
c.Bagimana komunikasinya.
Apakah anak mengalami kelainan dalam berkomunikasi, dan alat komunikasi apa yang digunakan (lisan,tulisan,isyarat) dan sebagainya.
d.Bagaimana perawatan dirinya
Apakah anak melakukan perawatan diri dalam aktifita kegiatan sehari-hari
e.Bagaimana posisi.
Disini diperlukan bantuan bagaimana posisi anak tersebut didalam menggunakan alat,posisi posisi belajar,waktu istirahat waktu kecil dan sebagainya.Dalam hal ini terapi fisik sangat diperlukan.

sumber : http://materiplb.blogspot.co.id

Tinggalkan komentar