Tunagrahita adalah kondisi dimana seorang individu mengalami keterbelakangan mental atau dikenal juga retadasi mental (mental retardation). Anak tunagrahita memiliki IQ di bawah rata-rata anak normal pada umumnya, sehingga menyebabkan fungsi intelektual mereka terganggu dan menyebabkan munculnya permasalahan-permasalahan baru pada masa perkembangannya. Hal tersebut sejalan dengan AAMD (American Assosiation on Mental Deficiency) yang dikutip oleh Grossman (Krik & Gallagher, 1986:116) dan diterjemahkan oleh Astati dan Lismulyati bahwa:
Tunagrahita mengacu pada fungsi intelek umum yang nyata berada di bawah rata-rata bersamaan dengan kekurangan dalam adaptasi tingkah laku dan berlangsung dalam masa perkembangan}
Sumber:Sedangkan menurut Amin (1995:15) anak tunagrahita adalah:
Anak yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata, mengalami hambatan tingkah laku, penyesuaian dan terjadi pada masa perkembangannya.}
Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:
- Lemah pikiran (Feeble Minded)
- Terbelakang mental (Mentally Retarded)
- Bodoh atau dungu (Idiot)
- Pandir (Imbecile)
- Tolol (Moron)
- Oligofrenia (Oligophrenia)
- Mampu Didik (Educable)
- Mampu Latih (Trainable)
- Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau butuh rawat
- Mental Subnormal
- Defisit Mental
- Defisit Kognitif
- Cacat Mental
- Defisiensi Mental
- Gangguan Intelektual
Tanda-tanda anak tunagrahita dapat dikenali sejak masa kanak-kanak. Biasanya, anak dengan disabilitas intelektual akan menunjukkan proses pertumbuhan atau perkembangan yang terhambat. Ada beberapa tanda yang paling sering muncul pada anak tunagrahita, yaitu:
- Anak lambat bicara, duduk, merangkak atau berguling
- Sulit mengingat
- Lambat menguasai kemampuan dasar, seperti makan sendiri, berpakaian, atau buang air di toilet
- Gangguan perilaku, seperti sering marah-marah tidak terkendali
- Tidak dapat menghubungkan antara tindakan dengan konsekuensi dari tindakan tersebut
- Sulit berpikir logis maupun memecahkan persoalan ringan
Sebagian anak yang memiliki kelainan mental biasanya mengalami gangguan kesehatan, seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, autisme, gangguan kemampuan motorik, hingga kejang.
Sebagian kasus tunagrahita tidak dapat dicegah, tetapi ibu hamil selalu dapat menghindari aktivitas yang bisa meningkatkan risiko kondisi tersebut, seperti tidak mengonsumsi minuman keras dan mendapat perawatan hingga melahirkan.
Pada kasus yang disebabkan oleh penyakit turunan, tes dapat dilakukan untuk mendeteksi kelainan genetik mencegah keparahan dan mendeteksi sejak dini penyakit yang ada.
Menurut penelitian, beberapa kasus yang terdeteksi dan diatasi lebih awal memperlihatkan hasil yang maksimal. Anak bisa mengejar ketertinggalan dalam pertumbuhan atau perkembangan dan menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri.
Anak dengan tunagrahita memerlukan bimbingan dari orang tua dan orang-orang sekitarnya dalam menjalani proses perkembangan agar ia bisa menjadi lebih mandiri dan beraktivitas secara normal sesuai kemampuannya.
Oleh karena itu, orang tua yang memiliki anak tunagrahita diharapkan mencari tahu sebanyak mungkin tentang kondisi tersebut. Anda bisa konsultasi ke dokteratau psikolog anak untuk mendapatkan informasi tentang cara mendampingi dan mendukung Si Kecil yang menderita tunagrahita