Nama: Dede rofiunazat
Nim: 191520063
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Disini saya akan menceritakan pengalaman saya setelah menonton film Al-Ghazzali Kimia Kebahagiaan atau The Alchemist of Happiness yang salah satu tugas ke lima saya di Mata Kuliah Filsafat Islam.
Sejujurnya saya masih kurang paham dengan film tersebut, tapi saya terus mengulang menonton samabil mencoba memahami,untuk kesekian kalinya menonton film itu dan akhirnya sedikit demi sedikit saya mengerti makna dari film tersebut. Karena agar kita memahami isi dalam film tersebut jadi kita harus membaca dan menghayatinya sampai harus menontonnya berulang-ulang.
Film ini berkisah tentang perjalanan Al-Ghazzali yang mengabdikan hidupnya untuk menyelidiki rahasia keberadaan Tuhan dalam diri, spiritualitas. Realitas Puncak. Perjalanan hidup Al-Ghazzali sejak dari muda sekali, sebelum umurnya 20 tahun ia tak henti-henti mengelbenai samudera yang sangat dalam dan tidak ada rasa takut sama sekali di dalam dirinya saat mengarungi samudera.
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama. Siapa sih yang tidak kenal dengan Imam Al-Ghalazi? Beliau adalah ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.
pemakaman Al-Ghazali masih misterius adanya. Thus, Khurasan di Timur laut Iran, tempat Al-Ghazali dilahirkan yaitu tahun 1058. Kota ini dahulu menjadi pusat budaya Islam yang besar dan luas, banyak ulama lahir di sana termasuk Al-Ghazali. Pada masa Al-Ghazali merupakan masa peradaban terhebat yang pernah ada, terbesar, paling makmur, dan secara intelektual maupun arsitektural terproduktif.
Al-Ghazali mempunyai seorang ayah yang soleh sufi menjaga hati dan tangannya untuk melakukan yang halal. Sebelum ayahnya meninggal beliau berwasiat kepada temannya yang sholeh juga sufi untuk menjaga putranya yang bernama abu hamid Al-Ghazali sama saudaranya yang bernama Ahmad Al-Ghazali. Al-Ghazali dan adiknya di tinggalkan wafat oleh ayahnya pada usia 7tahun. Setelah itu Al-Ghazali dan adiknya tinggal dirumah teman ayah nya yang sudah ayahnya wasiatkan.
Pada film, dijelaskan oleh T.J. Winter, Lecturer, Islamic Studies Cambridge University bahwa Khurasan diperkirakan tempat paling produktif di wilayah tengah Islam, saat itu. Sekarang letak kota itu diperkirakan di daerah Asia Tengah. Ada kota besar, universitas besar di sana, dan pusat studi hukum Islam (fiqh). Prinsip awal tashawuf dijabarkan di Khurasan, dijadikan metode agar setiap Muslim bisa kembali ke spiritualitas asli di inti keimanan. Jadi, saat itu Khurasan memang jantung intelektualitas Islam dan gegap gempita kehidupan Muslim periode itu. Pasukan Mongol meratakan kota-kota besar Khurasan dan memendam dalam-dalam, menghilangkan dan menghapus hampir semua jejak pusat studi dan budayanya
Al-Ghazali adalah manusia hebat atau bisa di bilang manusia ajaib, karena hafal teks standar di usia dini. Sejak kecil Al-Ghazali selalu penasaran akan ilmu. Tidak hanya ketika usia dini saja imam Al Ghazali haus akan ilmu, ketika remajapun rasa ingin tahu beliau semakin tinggi, semua ilmu yang beliau pelajari selalu di ajarkan kembali kepada teman-temannya
sifat-sifat beliau yg membuat semua orang kagum akan dirinya. Beliau juga memiliki selera yang tak terpuaskan dalam menunutut ilmu akan pengetahuan. Beliau mengatakan “kalam” tetapi beliau tidak pernah menulis apa itu kalam tetapi beliau bias menghafal sampai 12000 halaman. Di dalam film ini banyak sifat-sifat dari Al-Ghazali yang harus kita ikuti, beliau bisa disebut denga seorang kutu buku karena beliau sudah banyak buku-buku yang sudah beliau baca dan kuasai. Akan tetapi beliau tidak pernah puas dengan ilmu pengetahuan yang beliau miliki.
ketika imam al ghazali beserta para rombongan sedang berada di perjalanan untuk pulang dari menuntut ilmunya. Saat sedang dalam perjalanan tiba-tiba datang segerombolan perampok pun mengambil harta yang dimiliki rombongan al Ghazali . Berbeda dengan para rombongannya imam al Ghazali dengan bersikeras melindungi buku yang di milikinya, akan tetapi salah seorang perampok malah mengambil buku yang dimiliki al Ghazali. Al ghazali bersikeras agar perampok itu tidak mengambil buku yang ia miliki karna buku itu berisi semua yang ia pelajari dari perjalanannya ke jurjan selama 2 tahun terakhir. Akan tetapi perampok itu menyobek buku al Ghazali sambil berkata “ jadi aku cukup merampasnya darimu untuk menghapus pengetahuanmu”. Dari perkataan salah seorang perampok itu al Ghazali tersadar ternyata perkataan permpok itu benar bahwa, ilmu bukan hanya di tulis tapi menghafalnya pun sangat lebih penting. Pengalaman tersebut memberi pelajaran kepadanya, ia menekadkan demi Tuhan dan pengetahuan yang didapatkan dari pencegatan masa depan. Beliau menghapalkan catatan yang telah diperoleh selama tiga tahun. Hal tersebut kemudian patut untuk kita ambil maknanya pula. Bahwasannya apa yang terlihat di mata kita dapat hilang kapan saja, namun kita bisa tetap menggenggamnya walaupun hilang dengan cara memahami, menghayati dan menghapalnya.
Saat itu al Ghazali mulai menyadari bahwa hasrat dalam dirinya tak tergerak akan hasrat murni akan tuhan dan betapa palsunya dirinya saat itu. Al Ghazali merasa dirinya di dekat bahaya api neraka, kecuali dirinya mengubah jalan hidupnya dan menjalani hidup yang sadar ilahi.
Akhirnya al Ghazali menemukan obat dari perdepatan dalam jiwa sepiritualnya, yaitu bahwa tashauf dan sufi bukan hanya di pahami dalam buku-buku akan tetapi semua itu bermula dari pengalaman langsung. Maka al Ghazali memutuskan untuk hijrah Moral atau perjalanan lahiriyah, dengan meninggalkan segalanya, jabatan, keluarga,materi, meninggalkan baghdad. Semua itu beliau lakukan untuk mencari keyakinan dan hakikat dari realitas ilahiyah. Hanya berbekal tawakal pada tuhan .
Ghazali, menemukan sesuatu yang selama ini ia cari. Tak jauh-jauh, didalam dirinya sendiri dan menanti ditemukan oleh diri sendiri. Begitu juga dengan kebahagian, ia tak pernah jauh. Kebahagiaan hanya perlu ditemukan di dalam diri kita. Dengan berjalannya waktu, Ghazali semakin dikenal kelihaiannya. Ia mencapai puncak aktualisasi diri dengan sangat baik. Kekayaan, status, kemapanan, kepopuleran telah ia pegang. Namun, di suatu waktu timbul kekahwatiran pada dirinya, ia seakan ingin menjadi apa adanya dan menyadari betapa palsu dirinya. Ternyata apa yang telah teraktualisasikan tidak cukup menjawab tentang siapa diri beliau yang sebenarnya. Kepribadian bersembunyi di balik sesuatu. menyadari topeng yang ia tebar di dunia sebagai si jenius, si anak ajaib, dan pendebat yang sangat cemerlang. Pada saat itu, dalam dakwah yang ia sampaikan di masjid, ada seorang pemakna kehidupan Illahi, menjadi pemicu transformasi beliau, ia berkata, “Wahai batu asah, sampai kapan kau menajamkan besi, tapi kau sendiri tak kunjung tajam?”. Dari situlah beliau akhirnya menyadari bahwa pengetahuan intelektual ini ternyata kejahilan yang sangat samar. Beliau benar-benar berada pada titik sadar, “Aku fana, aku akan mati. Sudahkah kupersiapkan perjalanan ini?” Hal itu menerpurukkan, merusak selera makan, waktu makan dan tidurnya, pelan-pelan. Lalu al-Ghazali jatuh sakit, dan itu tiada obatnya, karena penyakit itu menyerang jiwanya. Beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan segala hal duniawi yang ia miliki, untuk berkelana. Meninggalkan kehidupan yang sangat sukses. Ia pergi menyembuhkan diri. Jujur pada diri sendiri. Memutus ikatan-ikatan duniawi untuk sementara. Ia memaknai sebuah rumah. Rumah kita bukan di sebuah jalan tertentu, dan tak menghuni tempat tertentu kecuali Tuhan. Beliau juga berniat untuk berhaji ke Makkah.
Ghazali pergi mencari Tuhan di alam liar, berkelana melalui gurun dan hutan. Tawakal bahwa Tuhan akan mencukupi kebutuhan manusia, berusaha untuk terus mengingat-Nya. mengenal Tuhan melalui pengajian Al-Qur’an, shalat.Dia abdikan dirinya untuk menyucikan jiwa, memperbaiki sifat, membersihkan hati. Menerapkan yang telah dipelajari dari Tashawuf. Beliau memulai kehidupan spiritualnya. Dia menulis hal-hal yang ia temukan dalam perjalanannya agar yang lain dapat memahami.
Menurut saya isi dalam film ini, banyak sifat-sifat Al-Ghazali yang harus kita patuhi. Yaitu sungguh-sungguh dalam mencari ilmu, dia selalu ingin tau akan ilmu-ilmu jadi janga. Merasa dikiri kita paling hebat akan ilmu. Rajin membaca buku, kita sebagai mahasiswa harus banyak-banyak membaca buku agar pengetahuan kita semakin banyak. Harus lawan ‘Malas’ agar kita menjadi orang yang sukses karena buku adalah gudangnya ilmu. Semakin tawadhu saat memiliki banyak ilmu dan semakin sadar bahwa kekuatan dan keilmuan yang dimiliki itu dari tuhan
Bukan hanya itu di dalam film tersebut ada sisi negatif nya juga Al-Ghazali manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Jenis manusia seperti ini, paling susah dicari kebaikannya. Manusia seperti ini dinilai tidak sukses di dunia, juga merugi di akhirat.
Sekian dari saya, semoga Resensi film Al-Ghazzali Kimia Kebahagiaan atau The Alchemist of Happiness bisa membuat kalian menarik untuk menonton filmnya. Kurang dan lebih nya mohon di maklumi karena saya masih proses pembelajaran.
Wasalamua’laikum Wr.Wb